Brainwashing - Alphabet Hana's Psyche

Brainwashing (cuci otak) adalah sebuah upaya rekayasa untuk membentuk ulang cara berpikir, perilaku dan keyakinan sehingga terbentuk pemikiran yang baru. Dalam psikologi, studi tentang brainwashing, sering disebut sebagai reformasi pemikiran, termasuk dalam lingkup “pengaruh sosial.” Pengaruh sosial terjadi setiap menit setiap hari. Ini adalah kumpulan cara di mana orang bisa mengubah sikap orang lain , keyakinan dan perilakunya. Misalnya, metode kepatuhan bertujuan untuk menghasilkan perubahan dalam perilaku seseorang dan tidak peduli dengan sikap nya atau keyakinan.

Tujuan Brainwashing sendiri bisa berdampak positif dan bisa berdampak negatif. Akan berdampak positif apabila mengubah pola pikir yang benar-benar salah ke arah pola pikir yang sungguh-sungguh benar, misalnya dari tidak percaya Tuhan menjadi percaya. Dan menjadi negatif apabila mengubah pola pikir tertentu menjadi pola pikir yang lain tanpa disadari oleh brainwashee bahwa dia telah diarahkan ke pola pikir yang lain dari yang benar ke arah yang tidak benar. Contohnya menjadi teroris,

KLIK DISINI Dimana sebenarnya sasaran brainwashing ini? Sasarannya adalah otak kanan dan mengapa bisa seperti itu? Karena otak kanan cenderung lebih melibatkan perasaan dibanding otak kiri yang rasionalitas. Jadi, orang-orang dengan kecenderungan pemakai otak kanan akan lebih mudah terpengaruh dan terbawa perasaannya.

Pada umunya brainwashing dilakukan untuk keperluan militer atau politik. Tak jarang juga terjadi di dunia hiburan atau penjualan. Senjata terampuh yang membuat seseorang mudah terkena brainwashing adalah uang.

Adapun kategori-kategori brainwashing adalah sebagai berikut :

1.Soft brainwash

Yaitu brainwash secara halus. Antara lain berbentuk persuasi, sugesti, indoktrinasi, ceramah, dakwah, pidato, kampanye, personal approach, artikel, iklan, memberikan bantuan baik berupa pengobatan gratis, nasehat atau konsultasi gratis, membantu warga yang akan pindah rumah, bantuan sembako, mengajari shalat gratis, membiayai naik haji dan bantuan-bantuan lainnya. Namun, semua kegiatan itu selalu disisipi kalimat-kalimat tertentu yang selalu diulangi denganjeda waktu tertentu . Tentu, pihak brainwashee jangan sampai menyadari kalau dia sedang mengalami proses brainwashing yang dilakukan brainwasher. Jadi, yang dicuci adalah otaknya, bukan hatinya. Karena hati bukan sasaran brainwashing.

2.Middle brainwash

Yaitu brainwashing yang biasanya sifatnya massal atau banyak orang. Biasanya dilakukan di sekolah, kampus, ponpes,kantor, LP , acara diskusi atau seminar dan lain-lain. Biasanya proses brainwashingnya berkedok agama, politik, pendidikan, kemiskinan, kolonialisme, kapitalisme dan tema-tema lain yang diperkirakan cocok. Tema-tema yang dipilih tentu saja sesuai dengan tujuan akhir dari brainwasher.


3.Hard brainwash

Yaitu brainwashing yang bertujuan mengubah pola pikir ke pola pikir baru dengan tindakan-tindakan fisik. Misalnya dipukul, disetrum, disiksa , menggunakan obat, dan cara-cara lain yang menyentuh fisik disertai kalimat-kalimat brainwashing yang bertujuan akhir sesuai dengan yang diinginkan brainwasher.

Mind control method dan rebrainwash

Mind control methods

Orang yang kuat otak kirinya, tentu sulit untuk dipengaruhi proses brainwashing. Biasanya dia orang yang sangat rasional dan cerdas. Wawasan berpikirnya luas. Cara berlogikanya mengikuti format-format berlogika yang benar. Oleh karena itu, dia mampu melakukan mind control” atau memperkuat rasionya agar tidak mudah dipengaruhi proses brainwashing.

Rebrainwash

Yaitu proses mengembalikan pola pikir yang salah ke arah cara berpikir atau cara berlogika yang benar. Misalnya, menyadarkan para korban narkoba agar kembali menjadi manusia normal bahwa memusuhi narkoba.

Cara Untuk Melakukan Brainwashing

Ada Beberapa cara untuk mencuci otak, perlu diketahui jika cara ini bukan berasal dari saya atau hasil browsing saya di Google. Pengetahuan ini, saya dapatkan dari mantan penguasa ilmu hitam dan ilmu putih tingkatan tertinggi di Indonesia sekaligus penguasa spiritual-psikologi yang keren. Beliau adalah murid tunggal dari pasangan Atmo-Gejek.

1. Pelumpuhan

Yang pertama harus dilakukan dalam melakukan praktik cuci otak adalah melumpuhkan korban. Biasanya para pengikut baru suatu organisasi fanatik dikurung dalam suatu ruangan gelap selama satu hari penuh tanpa makan dan minum. Ruangan yang dipakai harus benar-benar gelap, tidak boleh ada satupun titik cahaya. Ini bertujuan untuk membuat korban akan mulai setengah sadar, atau dalam bahasa psikologi, dinamakan memasuki alam bawah sadar.

2. Pembentukan Karakter

Setelah dikurung 24 jam tanpa cahaya, makan dan minum korban akan memasuki alam bawah sadarnya. Setelah itu para korban akan didengarkan musik. Para pakar psikologi pun mengakui jika musik memiliki pengaruh bagi karakteristik seseorang. Dalam spiritual pun para pakar mengakui jika musik memiliki roh.

Nah! Jika ingin korban mempunyai karakter yang keras, maka yang diperdengarkan adalah musik keras. Jika korban ingin dijadikan seseorang yang berkarakter lembut, maka yang diperdengarkan adalah aliran musik yang lembut. Ini akan berlangsung selama 3-6 jam sampai korban benar-benar hilang kesadarannya setelah tahap Pelumpuhan.

3. Teaching

Jika korban telah kehilangan kesadarannya, maka dalam bahasa psikologi dinyatakan telah masuk sepenuhnya ke alam bawah sadar. Dalam keadaan korban kehilangan kesadaran inilah korban dapat diajarkan apapun sesuai keinginan si pencuci otak. Semuanya tinggal diajarkan kepada korban dalam keadaan korban tidak sadar. Misalnya jika kita menginginkan korban untuk membom gedung putih, tinggal bilang saja kalau para manusia yang duduk di gedung putih itu tidak layak untuk hidup, dan merupakan suatu kehormatan jika dia membinasakan mereka yang disana.

Setelah itu korban disadarkan, lalu diberi makan (Ingat! Dia belum makan seharian loh!) Maka setelah korban siuman, disuruh bom gedung putih pun dia nurut. Hasilnya, “BOOMM!..” rekaman CCTV yang menunjukkan langkahnya yang tegap dan wajahnya yang mantap akan menghiasi media-media elektronik di seluruh penjuru Indonesia.




Battered Child Syndrome - Alphabeth Hana's Psyhce

Apakah ada dari kalian yang masih asing dengan istilah "Battered Child Syndrom" atau dalam bahasa Indonesianya "Sindrom Anak yang Teraniaya" atau "Sindrom Anak Babak Belur"

Battered Child Syndrom adalah Suatu penyakit di mana anak-anak dilecehkan secara fisik. Sindrom anak yang babak belur adalah bentuk pelecehan anak . Pelecehan yang dimaksudkan adalah melakukan kekerasan fisik pada anak sampai anak tersebut mengalami trauma hebat. Pelecehan anak melibatkan serangkaian masalah yang kompleks dan berbahaya yang mencakup pengabaian anak dan kekerasan fisik, emosional, dan seksual anak-anak.

Tidak sampai abad ke-19 anak-anak diberikan status hukum yang sama dengan hewan peliharaan dalam hal perlindungan terhadap kekejaman dan / atau pengabaian. Pada tahun 1962, istilah "sindrom anak babak belur" akhirnya memasuki dunia kedokteran. Pada 1976 semua negara bagian di Amerika Serikat telah mengadopsi undang-undang yang mewajibkan pelaporan dugaan kasus pelecehan anak .

Total tingkat pelecehan anak-anak adalah 25,2 per 1.000 anak, dengan pelecehan fisik menyumbang 5,7 per 1.000, pelecehan seksual 2,5 per 1.000, pelecehan emosional 3,4 per 1.000, dan penelantaran menyumbang 15,9 per 1.000 anak


Berikut beberapa contoh kasusnya :

Penelantaran anak adalah bentuk pelecehan anak yang paling sering dilaporkan dan paling mematikan. Bentuk pelecehan ini didefinisikan sebagai kegagalan untuk menyediakan tempat berlindung, keselamatan, pengawasan, dan kebutuhan gizi anak. Penelantaran anak dapat berupa penelantaran fisik, pendidikan, atau emosional.

Pengabaian fisik termasuk penolakan atau keterlambatan dalam mencari perawatan kesehatan, pengabaian, pengusiran dari rumah atau penolakan untuk memungkinkan pelarian kembali ke rumah, dan pengawasan yang tidak memadai.

Pengabaian terhadap pendidikan mencakup pemberian pembolosan kronis, kegagalan untuk mendaftarkan anak usia sekolah wajib di sekolah, dan kegagalan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan khusus.

KLIK DISINI
Pengabaian emosional termasuk tindakan seperti tidak memperhatikan kebutuhan kasih sayang anak, penolakan atau kegagalan untuk memberikan perawatan psikologis yang diperlukan, penyalahgunaan pasangan di hadapan anak, dan izin penggunaan narkoba atau alkohol oleh anak.

Pelecehan fisik adalah bentuk pelecehan anak yang paling sering dilaporkan kedua dan didefinisikan sebagai cedera fisik yang diderita anak dengan niat kejam dan / atau jahat. Penganiayaan fisik dapat merupakan hasil dari meninju, memukul, menendang, menggigit, membakar, mengguncang, atau dengan cara lain melukai seorang anak. Orang tua atau pengasuh mungkin tidak bermaksud untuk menyakiti anak, tetapi cedera mungkin disebabkan oleh disiplin yang berlebihan atau hukuman fisik.

Penganiayaan emosional adalah bentuk penganiayaan anak yang paling sering dilaporkan ketiga dan mencakup tindakan atau kelalaian oleh orang tua atau pengasuh lain yang dapat menyebabkan gangguan perilaku, emosi, atau mental yang serius. Misalnya, orang tua / pengasuh dapat menggunakan bentuk hukuman yang ekstrem atau aneh, seperti mengurung anak di lemari yang gelap. Pelecehan anak secara emosional juga kadang-kadang disebut pelecehan psikologis anak, pelecehan anak secara verbal, atau cedera mental seorang anak.

Pelecehan seksual adalah bentuk pelecehan anak yang paling jarang dilaporkan dan diyakini sebagai jenis penganiayaan anak yang paling tidak dilaporkan karena kerahasiaan atau "konspirasi diam" yang begitu sering menjadi ciri kasus-kasus ini. Pelecehan seksual termasuk membelai alat kelamin anak, hubungan intim, inses, pemerkosaan, sodomi, eksibisionisme, dan eksploitasi komersial melalui pelacuran atau produksi bahan-bahan pornografi.

Cidera fatal akibat penganiayaan dapat disebabkan oleh berbagai tindakan termasuk trauma kepala parah (cedera), sindrom bayi terguncang , trauma pada perut atau dada, panas, terbakar , tenggelam , mati lemas, mati lemas, keracunan, dll.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kemungkinan potensi pelecehan dan predisposisi pelecehan anak termasuk:


  • Masa kecil pelaku : pelaku kekerasan anak sering dilecehkan ketika masih anak-anak.
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang: setidaknya setengah dari semua kasus pelecehan anak melibatkan beberapa tingkat penyalahgunaan zat (alkohol, narkoba, dll) oleh orang tua anak.
  • Stres keluarga: disintegrasi keluarga inti dan sistem pendukungnya yang melekat telah dikaitkan dengan pelecehan anak.
  • Kekuatan sosial: para ahli memperdebatkan apakah pengurangan yang dipostulasikan dalam nilai-nilai agama / moral ditambah dengan peningkatan penggambaran kekerasan oleh media hiburan dan informasi dapat meningkatkan pelecehan anak.
  • Anak: anak-anak yang berisiko lebih tinggi untuk pelecehan anak termasuk bayi yang dianggap "terlalu cerewet", anak-anak cacat, dan anak-anak dengan penyakit kronis.
  • Peristiwa "pemicu" spesifik yang terjadi tepat sebelum banyak serangan orangtua yang fatal pada bayi dan anak kecil termasuk: tangisan bayi yang tidak dapat dihibur, kesulitan makan, pelatihan toilet yang gagal pada balita, dan persepsi orangtua yang berlebihan tentang tindakan "ketidakpatuhan" oleh anak.




Aversi - Alphabet Hana's Psyche

Aversi adalah perasaan tidak senang, tidak suka terhadap benda orang, tingkah laku orang atau situasi tertentu, baik yang sungguh-sungguh pernah dilihat atau didengar, maupun yang hanya ada dalam khayalan. Perasaan ini dinyatakan keluar dan disertai dengan usaha untuk selalu menghindari hal yang tidak disukai tersebut.

Dalam psikoterapi, aversi sering digunakan untuk terapi tingkah laku, yakni untuk menghilangkan tingkah laku tertentu yang tidak dikehendaki, misalnya alkoholisme, kelainan seksual, dan lain sebagainya. Prinsip yang digunakan dalam teknik terapi aversi adalah menghubungkan tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan situasi yang tidak menyenangkan. Terapi dilakukan dengan menghadirkan situasi yang tidak menyenangkan setiap kali tingkah laku yang tidak dikehendaki muncul. Terapi ini dilakukan secara berulang-ulang sehingga seseorang akan menyakini bahwa situasi yang tidak menyenangkan merupakan akibat dari tingkahlaku yang tidak dikehendaki. Melalui terapi aversi, diharapkan seseorang berusaha untuk menghilangkan tingkah laku yang tidak dikehendaki agar situasi yang tidak menyenangkan menghilang juga.

Teknik terapi aversi didasarkan pada teori pengondisian klasik yang dikemukakan oleh Ivan Petrovich Pavlov. Pada mulanya, terapi aversi ini langsung menghubungkan tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan situasi (konkrit) yang tidak menyenangkan. Dalam perkembangannya, teknik terapi ini dilakukan dengan kesadaran, yakni orang yang bersangkutan diminta (dengan kesadaran) untuk membayangkan situasi yang tidak menyenangkan yang mungkin timbul akibat dari tingkah lakunya yang tidak dikehendaki. (Sumber : Wikipedia)

Terapi Aversi (Aversion Therapy) 

Aversion therapy (AT) adalah satu teknik modifikasi perilaku dengan cara menghubungkan kebiasaan atau perilaku yang hendak dimodifikasi, baik itu dikurangi atau dihentikan, dengan satu sensasi atau perasaan tidak menyenangkan baik di aspek mental, emosi, atau fisik.

Ada banyak bentuk AT, misalnya, mengoles jari anak dengan minyak atau zat tertentu dengan tujuan agar anak berhenti menggigit kuku atau mengisap jempolnya. Cara ini juga biasa digunakan ibu yang ingin menyapih anaknya.

Tujuan dari AT hanya satu yaitu menghentikan kebiasaan atau perilaku tertentu yang dianggap tidak baik atau merugikan. AT dapat diaplikasikan untuk mengatasi kebiasaan merokok, makan berlebih, minum alkohol, berjudi, pornografi, selingkuh, malas belajar, dan banyak kebiasaan atau perilaku lainnya. AT juga digunakan dalam hipnoterapi dan dapat memberi hasil yang baik sampai batas tertentu. Namun penggunaan AT dalam hipnoterapi sebaiknya dilakukan dengan bijaksana dan cermat karena bila dilakukan tanpa perhitungan yang matang justru akan sangat merugikan klien.

Berikut salah satu contoh aplikasi AT dalam hipnoterapi untuk menghentikan kebiasaan merokok.

Klien datang ke terapis dengan tujuan berhenti merokok. Saat wawancara klien menjelaskan semua alasan logis mengapa ia perlu berhenti merokok. Dan semuanya masuk di akal klien maupun terapis.
Berbekal keyakinan bahwa klien menunjukkan motivasi kuat untuk berhenti merokok, terapis melakukan AT. Setelah membimbing klien masuk ke kondisi hipnosis yang dalam, terapis mulai memberi sugesti, kurang lebihnya seperti ini:

“Mulai sekarang dan seterus, setiap kali Anda ingin merokok, melihat rokok, mencium bau rokok, menghirup asap rokok, atau ditawari rokok oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, tanpa alasan yang jelas namun pasti Anda mulai merasa mual dan mencium bau rokok seperti bau ikan busuk. Anda sungguh merasa tidak nyaman. Dan semakin Anda bersikeras untuk tetap merokok maka perasaan mual Anda menjadi semakin kuat dan bau rokok menjadi sama baunya dengan ikan yang telah membusuk berhari-hari. Anda merasa jijik.

Sekarang bayangkan diri Anda ditawari rokok…atau bayangkan Anda mencium bau rokok… atau menghirup asap rokok… bayangkan… rasakan… tiba-tiba Anda merasa mual dan mencium bau ikan busuk yang membuat Anda sangat tidak nyaman…

Bila Anda tetap merokok, inilah yang pasti terjadi. Bayangkan diri Anda merokok… lihat dan rasakan asap rokok ini masuk ke paru-paru Anda… berubah menjadi racun mematikan….. masuk ke dalam darah dan menyebar ke seluruh tubuh Anda… membuat paru-paru Anda keracunan dan mulai timbul kanker…menyebar ke seluruh tubuh Anda… membuat Anda sangat sakit… menderita… dan akhirnya Anda mati dengan kondisi sangat menderita, menyedihkan, dan mengenaskan. Selain itu, dengan kondisi sakit ini, Anda juga merepotkan semua keluarga Anda, membuat mereka ikut menderita. Saat mati, Anda masuk neraka… api neraka membakar Anda selamanya karena Anda telah menyia-nyiakan hidup yang telah Tuhan berikan kepada Anda. Tentu Anda tidak ingin mati seperti ini, bukan?

Sekarang, bayangkan dan atau rasakan Anda berhenti merokok. Bayangkan dan rasakan tubuh Anda sehat… kuat… Anda bisa berumur panjang… bahagia…”

Dari sugesti di atas tampak bahwa terapis berusaha menghubungkan antara kebiasaan merokok dengan akibat negatif yang akan menimpa klien bila klien meneruskan kebiasaan ini.

Apakah ini akan berhasil? Jawabannya bisa ya… bisa juga tidak.

Ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan saat memberikan sugesti kepada klien. Pertama, motivasi klien. Bila klien datang dengan motivasi yang sangat kuat untuk berubah maka hanya dengan sugesti sederhana klien bisa langsung berubah. Kedua, kedalaman relaksasi pikiran. Semakin dalam (deep trance) semakin baik karena critical factor telah berhasil ditembus sehingga kemampuan analisis dan menolak sugesti menjadi sangat berkurang atau bahkan sudah tidak bekerja. Akibatnya, sugesti apapun yang diberikan akan langsung masuk ke pikiran bawah sadar, diterima, dan dijalankan. Ketiga, susunan kata atau semantik yang digunakan. Keempat, otoritas terapis di mata klien.

Bila terapinya berhasil, klien sembuh. Namun, bagaimana bila ternyata sugesti ini tidak bekerja seperti yang diharapkan? Atau, sugesti ini bekerja untuk beberapa saat, setelah itu klien kembali kepada kebiasaan lamanya? Bila ini yang terjadi, apa efek dari AT terhadap diri klien?

Sebelum saya menjelaskan apa yang mungkin terjadi pada diri klien bila AT gagal, terlebih dahulu saya akan menjelaskan mengapa AT bisa gagal dalam hipnoterapi.

Cara kerja pikiran bawah sadar berbeda dengan pikiran sadar. Saat suatu sugesti dimasukkan ke pikiran bawah sadar akan terjadi beberapa kemungkinan. Pertama, sugesti tidak dijalankan. Kedua, sugesti langsung dijalankan seperti yang diharapkan. Ketiga, sugesti dijalankan namun tidak maksimal.

Mengapa ini bisa terjadi?

Untuk ini kita perlu memahami apa sebenarnya perilaku. Perilaku, seperti yang saya tulis di buku Hypnotherapy for Children, adalah strategi yang telah teruji dan terbukti sangat efektif dan efisien, dari berbagai strategi yang telah dicoba oleh seorang anak, untuk bisa mendapatkan hal-hal yang anak inginkan dengan cepat, mudah, dan dengan tingkat keberhasilan yang paling tinggi.

Dengan demikian berarti perilaku punya fungsi yang spesifik untuk memberi apa yang kita inginkan. Dalam contoh di atas, klien merokok untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Seringkali saat ditanya alasannya merokok, klien akan menjawab bahwa ia merokok agar bisa berpikir jernih atau merasa tenang saat lagi stres.

Apakah alasan ini benar? Tidak. Seringkali alasan sesungguhnya klien merokok adalah untuk mendapat pujian, pengakuan, atau penerimaan dari kelompoknya. Dan tentunya awal klien merokok bukan saat ia dewasa namun saat masih remaja. Seiring waktu berjalan ia telah lupa alasan awal ini dan mulai membangun alasan baru yang menyatakan bahwa dengan merokok ia akan merasa tenang dan tidak stress.

Aversion Therapy (AT) tidak menyentuh alasan awal atau akar masalah. AT hanya menghubungkan satu kebiasaan atau perilaku yang hendak dikurangi atau dihentikan dengan perasaan atau sensasi yang tidak menyenangkan atau menyakitkan.

Harapannya, sesuai sifat pikiran bawah sadar yang lebih cenderung menghindari rasa sakit (pain) dan mengejar kesenangan (pleasure), klien akan berhenti melakukan tindakan atau perilaku yang tidak menguntungkan dirinya.

Namun, yang menjadi kendala adalah pemahaman akan pain atau pleasure di pikiran sadar dan bawah sadar ternyata berbeda. Apa yang dianggap pain oleh pikiran sadar bisa menjadi pleasure oleh pikiran bawah sadar. Ini disebabkan pikiran sadar dan bawah sadar bekerja dengan dua hukum yang berbeda.

Pain, bagi pikiran sadar, adalah hal-hal yang merugikan, menyakitkan, tidak menyenangkan, atau membahayakan. Pleasure adalah segala hal yang positif, menyenangkan, dan membawa kebaikan.

Pikiran bawah sadar punya pemahaman yang berbeda. Pain adalah segala sesuatu yang tidak ia kenal (unknown). Sedangkan pleasure adalah segala sesuatu yang ia kenal (known).

Jadi, walaupun sesuatu ini buruk menurut pikiran sadar, namun bila dikenal oleh pikiran bawah sadar maka ini adalah pleasure. Dan karena ini adalah pleasure sudah tentu pikiran bawah sadar akan berusaha keras mempertahankannya.

KLIK DISINI
KLIK DISINI 
Hal lain yang dapat menghambat sugesti yang digunakan dalam AT adalah penolakan dari empat filter mental yang ada di dalam pikiran bawah sadar. Saat critical factor dari pikiran sadar menjadi nonaktif karena relaksasi pikiran, benar sugesti dapat dimasukkan dengan leluasa ke pikiran bawah sadar, namun sugesti ini tetap akan melewati empat filter mental di pikiran bawah sadar. Empat filter mental ini yaitu filter survival (keselamatan hidup), filter moral/agama, filter benar/salah, dan filter masuk akal/tidak.

Sugesti yang mengatakan bahwa bau rokok sama seperti bau ikan busuk cepat atau lambat akan dianulir oleh pikiran bawah sadar karena pernyataan ini tidak benar. Bila dianulir maka sugesti ini menjadi tidak berlaku. Akibatnya, klien akan tetap merokok.

Sugesti yang masuk ke pikiran bawah sadar akan mengalami tiga kemungkinan. Pertama, sugesti berjalan dengan baik, seperti yang diharapkan, dan klien sembuh. Kedua, sugesti sama sekali tidak dijalankan, klien tidak sembuh. Ketiga, sugesti jalan sebentar setelah itu berhenti dan klien kembali ke pola lamanya.

Pada kemungkinan pertama tidak akan timbul masalah. Masalah serius dapat muncul bila yang terjadi adalah kemungkinan kedua atau ketiga di mana klien tetap merokok atau sempat berhenti sebentar kemudian kembali merokok.

Di sinilah kemungkinan terburuk dapat terjadi. Dalam AT yang dilakukan kepada klien, terapis, seperti yang saya contohkan di atas memberi sugesti berikut:

“ …………….. bila Anda tetap merokok, inilah yang pasti terjadi. Bayangkan diri Anda merokok… lihat dan rasakan asap rokok ini masuk ke paru-paru Anda… berubah menjadi racun mematikan dan masuk ke dalam darah dan menyebar ke seluruh tubuh Anda… membuat paru-paru Anda keracunan dan mulai timbul kanker… menyebar ke seluruh tubuh Anda… membuat Anda sangat sakit… menderita… dan akhirnya Anda mati dengan kondisi sangat menderita, menyedihkan, dan mengenaskan. Selain itu, dengan kondisi sakit ini, Anda juga merepotkan semua keluarga Anda, membuat mereka ikut menderita. Saat mati, Anda masuk neraka… api neraka membakar Anda selamanya karena Anda telah menyia-nyiakan hidup yang telah Tuhan berikan kepada Anda.”

Terapis, disadari atau tidak, karena abai dan tidak memroses akar masalah atau alasan awal klien merokok, telah memasukkan satu program pikiran yang sangat destruktif ke pikiran bawah sadar klien. Akibatnya, saat klien tetap merokok, bagian dari sugesti yang bertujuan membuat klien takut atau jera sehingga berhenti merokok justru dijalankan dan menjadi realita klien. Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi? Bila Anda adalah klien, apakah Anda bersedia mendapat sugesti seperti ini?

Beberapa waktu lalu saya kedatangan klien, anak muda usia 21 tahun, yang minta saya untuk membantunya berhenti merokok. Dalam sehari ia biasa menghabiskan tiga pak rokok. Ia minta diterapi sehingga dapat berhenti total. Menghentikan kebiasaan merokok, dengan hipnoterapi, sangatlah mudah.

Saya tentu tidak serta merta mengabulkan permintaannya. Semua penjelasan dan alasannya berhenti merokok masuk akal, sangat logis, dan bagus. Setelah membimbing klien ini masuk ke kondisi hipnosis yang dalam saya bertanya kepada pikiran bawah sadarnya apakah berkenan, diijinkan, atau dibolehkan bila saya membantu klien berhenti merokok. Ternyata ada satu Bagian Diri (Ego Personality), yang disebut Perokok, keberatan bila klien berhenti total. Menurut Perokok klien perlu tetap merokok karena dengan merokok klien dapat menjadi lebih rileks, tenang, dan bisa berpikir jernih saat ada masalah. Akhirnya saya melakukan negosiasi, disepakati, dan disetujui oleh Perokok bahwa dalam satu hari klien hanya boleh merokok maksimal enam batang. Dan dari hasil follow up beberapa hari kemudian klien menjelaskan bahwa benar dalam sehari ia merokok maksimal enam batang. Lebih sering dua atau tiga batang saja.

Satu hal yang sering terjadi bila terapis menggunakan AT adalah kondisi yang dinamakan dengan efek pembalikan atau bouncing effect. Bouncing effect adalah kondisi di mana perilaku klien menjadi semakin parah karena pikiran bawah sadar, lebih tepatnya ada Ego Personality, marah dan balik melawan sugesti yang diberikan terapis.

Keadaannya sama seperti bila kita menekan bola ke dalam air. Selama tekanan ke bawah, dalam hal ini sugesti yang diberikan kepada klien, tetap kuat menahan bola (baca: masalah) di dalam air, maka seolah-olah bolanya hilang karena tidak lagi tampak di permukaan. Namun saat tekanan melemah atau lepas maka bola akan melesat keluar dari dalam air dan melambung di udara.




Neuropsikologi - Hana's Psyche

Neuropsikologi adalah bidang psikologi klinis dan eksperimental yang berupaya mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi otak dengan proses dan perilaku psikologis. Istilah neuropsikologi telah digunakan untuk penelitian lesi pada manusia dan hewan. Istilah ini juga diterapkan untuk upaya mencatat aktivitas listrik dari sel-sel individual (atau sekelompok sel) pada primata-primata (termasuk manusia). Pendekatan neuropsikologi bersifat ilmiah, menggunakan neurosains, dan memiliki sudut pandang mengenai pemrosesan informasi yang sejalan dengan psikologi kognitif dan sains kognitif.

Neuropsikolog biasanya bekerja di tempat penelitian (seperti universitas, laboratorium, atau institusi penelitian), klinik, forensik, atau industri (sebagai konsultan untuk desain produk yang terkait dengan pengetahuan neuropsikologis atau manajemen percobaan klinis pada perusahaan farmasi untuk obat-obatan yang mungkin berdampak pada fungsi sistem saraf pusat).


Adapun Neuropsikologi adalah sebagai berikut (Trull, 2005) :


1. Membantu neuropsikologis atau dokter lainnya untuk memberikan keterangan diagnosis yang khas menyangkut persyarafan dan gangguan-gangguannya. Misalnya, seorang pasien memperlihatkan adanya gejala-gejala terganggu, tetapi diprakirakan bisa berbasis neurologis maupun gangguan emosional.

2. Neuropsikolog membuat prognosis (peristiwa yang akan terjadi) untuk penyembuhan.

3. Melibatkan diri dalam proses penyembuhan dan rehabilitasi. Tes neuropsikologis bisa menentukan lokasi gangguan dalam otak yang dapat membantu mempercepat pertumbuhan.

4. Neuropsikolog dapat diminta untuk mengevaluasi pasien gangguan mental untuk membantu meramalkan kondisi penyakit, misalnya taraf kekurangan sisi kognitif, maupun merancang strategi penanganan bersangkutan dengan kekuatan dan kelemahan pasien.

Latar Belakang Neuropsikologi

 Sejarah Neuropsikologi


Sejarah singkatnya studi mengenai perubahan-perubahan perilaku yang menyertai cidera pada bagian-baian tertentu dari otak memiliki sejarah panjang. Beberapa contoh paling awal dapat ditemukan dalam barang-barang peninggalan jaman Mesir kuno yang berangkat tahun 3000 – 2500 SM. Disana didiskripsikan fitur-fitur fisik otak dan contoh-contoh kasus, termasuk saran-saran penanganannya.

Galen (130 – 200M), seorang di kekaisaran romawi, menangani para gladiator yang cidera. Dalam perannya inilah ia melakukan observasi-observasi yang menghasilkan beberapa pengetahuan tentang hubungan berbagai tipe trauma dengan perubahan-perubahan perilaku yang mengikutinya.
      Beralih kezaman yang relatif modern, pada 1861 Paul Broca mengembangkan teori-teori penting tentang penemuan kasus “Tan”- nya yang termasyur. Tan adalah seorang pasien yang kehilangan kemampuan bicara selama lebih dari 20 tahun sebelum kematiannya. Dengan melakukan otobsi terhadap Tan, Broca menemukan keberadan Lesi dibelahan otak kiri Tan, dibagian yang kelak diberi nama broca’s area. Ini memberikan data yang mendukung kontroversi yang signifikan pada masa itu lokalisasi fungsi.

Neuropsikologi seringkali dibedakan menjadi dua area utama: neuropsikologi klinis dan neuropsikologi eksperimental. Perbedaan yang paling mendasari diantara keduanya adalah, pada neuropsikologi klinis subjeknya adalah mereka yang memiliki kerusakan pada otaknya, sedangkan pada studi eksperimental subjeknya adalah orang-orang dengan otak yang normal, walaupun mungkin metode investigasi yang digunakan juga berbeda-beda.

Neuropsikologi klinis berhubungan dengan  pasien-pasien yang memiliki kerusakan pada otaknya. Kerusakan ini bisa diakibatkan oleh penyakit atau tumor, kerusakan secara fisik, maupu karena trauma otak, atau bisa juga karena adanya perubahan biokimiawi. Neuropsikologi klinis mengukur kemunduran pada intelejensi, kepribadian, dan fungsi sensori-motorik dengan prosedur tes terstandar, kemudian menghubungkan hasilnya dengan lokasi di otak yang terkena dampak.

Dalam neuropsikologi banyak digunakan berbagai teknik pengukuran dalam rangka pengambilan data kerja otak dan perilaku. Asesmen neuropsikolgi didefinisikan sebagai evaluasi otak dan fungsi sistem saraf yang berhubungan dengan tingkah laku .Tes-tes neuropsikologi menggunakan alat-alat yang telah terstandarisasi. Tugas-tugas alat tes ini telah didesain sedemikian rupa sehingga performa alat-alat tersebut dapat dihubungkan pada proses neurokognitif yang spesifik.


  • Teknis neuroimaging
  • Computerized Axial Tomography (CAT) menggunakan Sinar X yang dikompilasikan oleh komputer
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI) menggunakan frekuensi-frekuensi radio yang tidak membahayakan dan interaksinya dengan otak, yang kemudia diukur oleh komputer sehingga menciptakan gambar-gambar otak
  • Positron Emitted Tomography (PET) menggunakan larutan radioaktif yang disuntikkan untuk kemudian dikaji aktivitas metabolik otak
  • Electroencephalography (EEG) merekam aktivitas elektrik otak (“gelombang otak”) dari kabel-kabel yang dilekatkan ke permukaan kulit kepala
  • Tes psikologi
  • Batere Tes: Reitan-Halstead
  • Pendekatan batere lainnya: WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) asesmen fungsi kognitif; LNNB 1 (Luria Nebraska Neuropsychological Battery) dan LNNB 2
  • Asesmen neuropsikologis memberikan bukti-bukti yang objektif sesuai faktanya, sehingga disebut bahwa asesmen neuropsikologis adalah “standar emas”nya bila dibandingkan dengan alat-alat diagnostik lainnya untuk mengetahui adanya patologi di otak, hanya autopsi satu-satunya yang dapat “mengalahkan” keakuratan asesmen neuropsikologi.

  Fungsi - fungsi di Lokasi Otak 

Sekarang, ahli neuropsikologi menjelaskan otak menurut fungsi spesifik, mereka melakukannya dengan menjelaskan lokasi dan perspektif global (walsh, 1987). Area yang berbeda memiliki fungsi yang berbeda. Belahan otak juga mempunyai fungsi tertentu dan saling berhubungan. Secara umum, bagian belakang otak memiliki fungsi sensori, sedangkan bagian depan otak memiliki fungsi eksekutif. Occipital lobe berfungsi memproses informasi visual; stimulus dari retina dibawa oleh saraf  penglihatan kepada thalamus dan kemudian ke occipital lobe. Setelah informasi visual diproses di occipital lobe, kemudian diteruskan ke bagian parietal, yang mengkombinasi dan mengintegrasikan informasi dari berbagai sumber. Karena parietal merupakan daerah dimana visual, auditori dan sensori bertemu, jadi disinilah penyatuan persepsi objek. Seseorang dengan kerusakan pada bagian parietal sering merasa kesulitan dalam mengenali objek, bahkan hal yang sangat umum dikenal.




Asperger - Alphabet Hana's Psyche

Apakah kalian sudah familiar dengan kata "Asperger?" Atau ini pertama kalinya kalian mendengar istilah tersebut? Kalau iya, mari berkenalan dengan si Asperger ini :)

Asperger diartikan sebagai salah satu sindrom  gangggan jiwa yang tergolong dalam spektrum autisme. Sindrom Asperger memiliki sedkit perbedaan gangguan dengan Autisme. Para penderita Asperger mayortas pandai dan mahir dalam bahasa, berbeda dengan penderita autisme yang memang sulit untuk berintersaksi.

Penyebab dari sindrom ini di duga karena terjadinya infeksi pada saat kehamilan. Selain itu terppar agen atau faktor yang menybabkan perubahan pada bentuk janin juga diduga sebagai penyebab lainnya.

Lalu apa gejala dari Asperger ini?

  • Sulit berinteraksi. Penderita sindrom Asperger mengalami kecanggungan dalam melakukan interaksi sosial, baik dengan keluarga maupun orang lain. Jangankan berkomunikasi, bahkan untuk melakukan kontak mata saja agak sulit.
  • Tidak ekspresif. Penderita sindrom Asperger jarang menampilkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh yang berkaitan dengan ungkapan emosinya. Ketika bahagia, penderita sindrom Asperger akan susah untuk tersenyum atau tidak bisa tertawa meskipun menerima suatu candaan yang lucu. Penderita juga akan berbicara dengan nada yang datar-datar saja, tidak ubahnya seperti robot yang berbicara.
  • Kurang peka. Saat berinteraksi dengan orang lain, penderita sindrom Asperger hanya berfokus menceritakan diri sendiri serta tidak punya ketertarikan dengan apa yang dimiliki oleh lawan bicara. Penderita sindrom Asperger bisa menghabiskan waktu berjam-jam membahas hobi yang disenanginya, misalnya membicarakan tentang klub, pemain, dan pertandingan sepak bola yang disukainya kepada lawan bicara.
  • Obsesif, repetitif, dan kurang menyukai perubahan. Rutin melakukan hal yang sama secara berulang-ulang (repetitif) dan tidak menerima perubahan pada sekitarnya ialah ciri khas penderita sindrom Asperger. Salah satu tanda yang paling terlihat ialah suka mengonsumsi jenis makanan yang sama selama beberapa waktu atau lebih suka berdiam diri di dalam kelas ketika jam istirahat berlangsung.
  • Gangguan motorik. Anak yang menderita sindrom Asperger mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya, jika dibandingkan dengan anak seusianya. Oleh karena itu, mereka sering tampak kesulitan saat melakukan kegiatan-kegiatan biasa, seperti menangkap bola, mengendarai sepeda, atau memanjat pohon.
  • Gangguan fisik atau koordinasi. Kondisi fisik penderita sindrom Asperger tergolong lemah. Salah satu tandanya ialah gaya berjalan penderita cenderung kaku dan mudah goyah.


Para penderita sindrom Asperger sering di diagnosis keliru. Mereka sering dianggap mengalami ganggguan ADHD. Semua gangguan ini sama, sama-sama tidak bisa dicegah. Namun, masih ada beberapa hal yan dapat dilakukan untuk meningkatkan potensi atau kemampuan yang dimiliki si penderitanya, misalnya melalui beberapa terapi, seperti :

  • Terapi bahasa, bicara, dan sosialisasi. Penderita sindrom Asperger sebenarnya pandai dalam menguasai bahasa dan berbicara. Hanya saja, kemampuan ini tidak mampu dilakukan kepada orang lain. Terapi ini mencoba untuk membiasakan penderita berbicara kepada orang lain, melakukan kontak mata ketika berinteraksi, serta membahas topik yang juga diinginkan oleh lawan bicara.
  • Terapi fisik. Terapi fisik atau fisioterapi bertujuan melatih kekuatan anggota-anggota tubuh. Sejumlah latihan rutin yang bisa diterapkan ialah lari, melompat, naik-turun tangga, atau bersepeda.
  • Terapi okupasi. Terapi yang cukup lengkap dengan menggabungkan latihan fisik, kognitif, dan pancaindra. Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki sekaligus meningkatkan kemampuan kognitif, fisik, sensorik, motorik, serta memperkuat kesadaran dan penghargaan kepada diri.
  • Terapi perilaku kognitif. Terapi perilaku kognitif memberikan pengajaran kepada anak mengenai cara-cara untuk mengungkapkan perasaannya dan bergaul dengan teman sebaya atau orang-orang di sekitarnya. Penderita akan dilatih untuk mengendalikan rangsangan yang diterima indera-indera tubuh, rasa takut, cemas, keinginan, penolakan, dan ledakan emosi.

Komplikasi Sindrom Asperger

Meski tidak semua penderita mengalaminya, komplikasi sindrom Asperger dapat berupa :

  • Cemas
  • Mudah marah
  • Agresif
  • Terlalu sensitif dengan lingkungan sekitar, misalnya suara bising
  • Depresi
  • Gangguan obsesif-kompulsif
  • Kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri

.Adapun untuk mengenali tanda-tanda pengidap Aspeger ialah sebagai berikut :

1. Perhatikan cara berkomunikasi nonverbal mereka. Cara komunikasi mereka yang berbeda dengan anak lain pada umumnya. Kalian bisa memperhatikan hal hal berikut :

 a. Kecenderungan untuk menghindari kontak mata.
 b. Keterbatasan penggunaan ekspresi wajah, dan/atau suara monoton.
 c. Keterbatasan penggunaan bahasa tubuh ekspresif, seperti gerakan tangan dan anggukan kepala.

2. Perhatikan tanda-tanda mutisme selektif. Mutisme selektif adalah keadaan seseorang hanya berbicara dengan orang yang ia rasa nyaman, dan diam saja di dekat semua orang lainnya. Ini biasa ditemukan pada penderita Asperger. Mereka mungkin berbicara terbuka dengan orang tua dan saudara, tetapi diam di sekolah dan di dekat orang-orang yang tidak ia kenal dengan baik.

3. Tentukan apakah ada kesulitan dalam membaca isyarat sosial dari orang lain. Penyandang Asperger sulit membayangkan perasaan orang lain dan memahami isyarat nonverbal. Ia mungkin bingung dengan ekspresi wajah atau bahasa tubuh yang menyampaikan rasa senang, sedih, takut, atau sakit. Berikut contohnya :


  • Ia mungkin tidak sadar sudah mengatakan sesuatu yang menyakitkan atau ketika ia membuat orang lain tidak nyaman saat mengobrol.
  • Anak yang bermain terlalu kasar, tidak sadar bahwa mendorong atau kontak fisik agresif bisa membuat orang lain sakit.
  • Terus menanyakan perasaan orang lain (misalnya, "Kamu sedih?" atau "Apa kamu lelah?") karena tidak yakin bagaimana perasaan orang lain. Jika lawan bicaranya tidak menjawab dengan jujur, ia mungkin bingung dan mencoba mencari jawaban jujur, tidak hanya diam saja.
  • Sangat terkejut, sedih, dan menyesal ketika diberi tahu bahwa tindakannya tidak pantas. Sepertinya ia benar-benar tidak mengerti. Ia mungkin merasa lebih buruk 

4. Perhatikan pembicaraan satu sisi. Individu penyandang Asperger mungkin tidak memahami timbal balik dalam percakapan, khususnya dalam topik yang menarik baginya atau topik moral seperti hak asasi manusia. Ia mungkin sangat bersemangat sehingga tidak menyadari bahwa lawan bicara juga ingin mengatakan sesuatu atau bosan.

Beberapa penyandang Asperger sadar bahwa mereka kadang memonopoli pembicaraan dan kemudian takut membicarakan minat mereka. Jika ada orang yang ragu membicarakan subjek favorit dan mengira orang lain kesal atau bosan dengannya, mungkin ia sedang berusaha menekan dorongan bicara karena takut dengan konsekuensi sosial daripada orang yang disakitinya.


5. Lihat apakah ia memiliki gairah intens. Banyak penyandang Asperger memiliki minat khusus yang hampir obsesif dalam beberapa subjek. Misalnya, penyandang Asperger yang tertarik dengan bisbol mungkin hafal dengan nama dan statistik tiap pemain dalam semua tim Liga Utama. Yang lain mungkin senang menulis, ia menulis novel dan memberi saran tulisan yang bagus pada usia yang sangat muda. Setelah dewasa, gairah ini bisa berkembang menjadi karier yang sukses dan menyenangkan.

6. Perhatikan apakah ia mengalami kesulitan dalam berteman. Penyandang Asperger mungkin sulit berteman karena ia tidak bisa berkomunikasi dengan efektif. Sebenarnya, banyak dari mereka yang ingin berteman, tetapi tidak memiliki kemampuan sosial yang memadai. Kecenderungan mereka untuk menghindari kontak mata dan obrolan yang canggung kadang disalahartikan sebagai kekasaran dan antisosial padahal sebenarnya mereka ingin mengenal orang lain degan baik.

  • Beberapa penyandang Asperger, khususnya anak kecil, mungkin tidak menunjukkan minat untuk berinteraksi dengan orang lain. Ini biasanya berubah seiring usia dan ketika ia memiliki keinginan untuk bergaul dan menyesuaikan diri dalam kelompok.
  • Penyandang Asperger mungkin hanya memiliki beberapa teman dekat yang sangat memahaminya, atau ia bergaul dengan banyak kenalan yang tidak memiliki ikatan mendalam.
  • Penyandang autisme cenderung dijadikan sasaran penindasan dan memercayai orang yang memanfaatkan mereka.

7. Perhatikan koordinasi fisik orang tersebut. Penyandang Asperger biasanya kurang memiliki kemampuan koordinasi, dan kadang agak kikuk. Mereka bisa saja sering tersandung atau menabrak dinding dan furnitur. Selain itu, mereka mungkin tidak ahli dalam aktivitas fisik berat atau olahraga. 



ADHD - Alphabet Hana's Psyche


ADHD memiliki dua tipe gejala , yaitu : 



Dominan inatensi



Orang dengan kondisi ini biasanya merasakan:

  • Tidak memperhatikan hal detail atau membuat kesalahan ceroboh pada tugas sekolah atau pekerjaan. 
  • Bermasalah dalam fokus terhadap tugas atau aktivitas, seperti dalam kelas, percakapan, atau bacaan panjang.
  • Seperti tidak mendengarkan lawan bicara (seperti berada di tempat lain). 
  • Tidak mengikuti arahan dan tidak menyelesaikan tugas sekolah atau kantor (mungkin sudah mulai mengerjakan, tapi tidak fokus). 
  • Punya masalah mengatur tugas dan pekerjaan (contohnya, tidak bisa mengatur waktu dengan baik, pekerjaan berantakan, dan melewatkan deadline). 
  • Menghindari atau tidak menyukai tugas yang melibatkan upaya mental berkelanjutan, seperti menyiapkan laporan dan mengisi formulir. 
  • Sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas atau menjalani keseharian, seperti lembaran tugas sekolah, buku, kunci, dompet, ponsel, atau kacamata. 
  • Mudah terdistraksi. 
  • Melupakan tugas sehari-hari. Remaja dan orang dewasa mungkin lupa untuk menelpon balik, membayar tagihan, dan menepati janji.
Dominan hiperaktif/impulsif



Orang dengan kondisi ini biasanya merasakan:

  • Gelisah dengan mengetukkan tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi. 
  • Tidak bisa duduk diam (di kelas, atau ruang kerja). 
  • Lari atau memanjat di tempat yang tidak seharusnya. 
  • Tidak bisa bermain atau melakukan aktivitas di waktu luang dengan tenang. 
  • Selalu “dalam perjalanan”, seakan digerakan oleh motor. 
  • Terlalu banyak bicara. 
  • Menjawab sebelum pertanyaan selesai dilontarkan (misalnya memotong kalimat orang lain dan tidak sabar untuk berbicara dalam percakapan). 
  • Kesulitan menunggu giliran saat mengantri. 
  • Melakukan interupsi terhadap orang lain (misalnya dalam percakapan, permainan, atau aktivitas, menggunakan barang orang lain tanpa permisi). Remaja atau orang dewasa mungkin akan mengambil alih aktivitas orang lain.  
  • Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Bagaimana mendiagnosis ADHD?

Memutuskan apakah seorang anak mengalami ADHD harus melalui beberapa tahap. Tidak ada satu tes pun yang bisa mendiagnosis ADHD, dan banyak masalah lain, seperti kecemasan, depresi, masalah tidur, dan jenis ketidakmampuan belajar tertentu, dapat memiliki gejala yang mirip. 

Tahap-tahap yang mungkin dilakukan untuk melakukan diagnosis ADHD adalah:

  • Pemeriksaan medis, dokter dapat melakukan beberapa tes gambar dan tes laboratorium untuk mengeliminasi kemungkinan penyebab lainnya
  • Pengumpulan informasi: seperti isu medis, sejarah medis personal dan keluarga, serta catatan sekolah
  • Wawancara atau kuesioner yang dilakukan terhadap anggota keluarga, guru anak atau orang lain yang mengenal baik anak, seperti pengasuh
  • Kriteria ADHD dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders
  • Skala penilaian ADHD untuk mengumpulkan dan mengevaluasi informasi mengenai anak Anda. 
  • American Center for Disease Control and Prevention menyebutkan bahwa orang dengan ADHD menunjukkan pola lalai yang terus-menerus dan mengganggu fungsi atau perkembangan. Berikut kriteria yang dapat membantu dokter melakukan diagnosis kondisi tersebut, berdasarkan publikasi American Psychiatric Association.

Jenis inatensi

Menemukan enam atau lebih gejala inatensi untuk anak-anak hingga usia 16 tahun, dan lima atau lebih gejala pada remaja berusia 17 tahun atau lebih tua. Gejala kondisi ini diperlihatkan paling tidak selama enam bulan. 

Jenis hiperaktivitas atau impulsivitas 

Menemukan enam atau lebih gejala hiperaktivitas atau impulsivitas untuk anak-anak hingga usia 16 tahun, dan lima atau lebih gejala pada remaja berusia 17 tahun atau lebih tua. Gejala kondisi ini diperlihatkan paling tidak selama enam bulan. 





KLIK DISINI
KLIK DISINI

Bipolar vs Mood Swing

KLIK DISINI
KLIK DISINI
Untuk Bipolar, mungkin kedengaraannya tidak se-asing PTSD atau ASD yang Hana bahas sebelumnya ya. Setiap orang pada umumnya pernah mengalami suasana hati yang baik (mood high) dan suasana hati yang buruk (mood low). Akan tetapi, seseorang yang menderita gangguan bipolar memiliki ayunan perasaan (mood swings) yang ekstrem dengan pola perasaan yang mudah berubah secara drastis. Suatu ketika, seorang pengidap gangguan bipolar bisa merasa sangat antusias dan bersemangat (mania). Saat suasana hatinya berubah buruk, ia bisa sangat depresi, pesimis, putus asa, bahkan sampai mempunyai keinginan untuk bunuh diri.

Gangguan bipolar dibagi menjadi bipolar I, bipolar II, cyclothymia, dan jenis lainnya berdasarkan sifat dan pengalaman tingkat keparahan episode suasana hati; kisaran sering digambarkan sebagai spektrum bipolar. Seperti dikutip dari www.minddisorders.com, berdasarkan standar kesehatan mental Amerika Serikat, ada 4 jenis gangguan bipolar, yaitu :

1. Bipolar 1
Gangguan bipolar 1 ditandai dengan manik depresif, yaitu adanya perubahan mood yang cenderung drastis. Penderita bisa mengalami 'mania', yaitu kesenangan dan kegembiraan yang berlebihan, over aktivitas fisik, banyak bicara, hingga penurunan kebutuhan tidur. Hal ini bisa diikuti dengan mengalami 'depresi', mulai dari suasana hati normal, berubah sedih yang mendalam, cepat marah, mudah tersinggung, tidak sabar, dan cepat berubah pikiran.

2. Bipolar 2
Sedangkan untuk bipolar 2, penderita depresi bipolar cenderung memiliki energi yang sangat rendah, kesehatan mental dan fisik yang agak terbelakang. Hal ini diikuti dengan kelelahan yang berlebihan karena hipersomnia, yaitu gangguan tidur yang ditandai oleh kebutuhan untuk tidur berlebihan atau kantuk yang tiba-tiba.

3. Cyclothymia
Gangguan ini mengacu kepada siklus hipo-mania, yaitu kegembiraan yang berlebihan dalam jangka waktu lama dengan gejala depresi yang tidak begitu kentara. Bahkan mungkin orang dengan gangguan ini tidak terlihat depresi sama sekali. Namun pada akhirnya, penderita cyclothymia akan mengembangkan bipolar 1 atau 2 yang parah.

4. Bipolar (NOS)
Bipolar NOS ini merupakan bipolar yang tidak teridentifikasi. Dalam arti, mereka mengalami beberapa gejala bipolar, namun bisa muncul dna hilang, atau mengalami gejala gangguan mental yang hampir sama dengan bipolar namun tidak spesifik dan tidak mudah dikenali seperti gejala bipolar lain.

Insiden gangguan bipolar berkisar antara 0,3% - 1,5% yang persentasenya tergolong rendah jika dibandingkan dengan persentase insiden yang dikategorikan skizofrenia. Gangguan bipolar saat ini sudah menjangkiti sekitar 10 hingga 12 persen remaja di luar negeri. Di beberapa kota di Indonesia juga mulai dilaporkan penderita berusia remaja. Risiko kematian terus membayangi penderita gangguan bipolar, dan itu lebih karena mereka mengambil jalan pintas.

Episode pertama bisa timbul mulai dari masa kanak-kanak sampai tua. Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita gangguan bipolar, risiko penyakit akan lebih berat, berkepanjangan, bahkan sering kambuh. Sementara anak-anak berpotensi mengalami perkembangan gangguan ini ke dalam bentuk yang lebih parah dan sering bersamaan dengan gangguan hiperaktif defisit atensi. Orang yang berisiko mengalami gangguan bipolar adalah mereka yang mempunyai anggota keluarga mengidap gangguan bipolar.


Faktor Risiko Gangguan Bipolar

Terdapat berapa faktor yang diduga meningkatkan risiko seseorang terkena gangguan bipolar, yakni:


  1. Mengalami stres berat.
  2. Kejadian traumatik.
  3. Kecanduan akan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang.
  4. Memiliki riwayat keluarga dekat (saudara kandung atau orangtua) yang mengidap gangguan bipolar.
Ciri-ciri bipolar disorder

Ciri bipolar kerap diabaikan begitu saja, atau hanya dianggap sebagai tanda-tanda stres. Padahal, bipolar tidak sesederhana stres atau depresi. Jika tidak ditangani dengan tepat, gejalanya bisa memburuk dan menyebabkan komplikasi berbahaya. Maka, pelajari perbedaan gejolak emosi yang wajar dan mana yang merupakan ciri bipolar berikut ini.

Episode mania

Pada fase mania yang bisa berlangsung selama beberapa jam, hari, atau minggu, penderita bipolar biasanya menunjukkan perilaku yang ekstrem dan tak terkendali. Dalam beberapa kasus, penderitanya sampai tidak bisa menjalani aktivitas sehari-hari seperti bersekolah dan kerja, hingga harus masuk rumah sakit. Inilah yang biasanya terjadi pada episode mania.  

  • Tidak bisa diam, harus bergerak terus atau berjalan mondar-mandir.
  • Merasakan kegembiraan yang meluap-luap.
  • Jadi lebih waspada terhadap lingkungan sekitarnya, mulai dari barang jatuh, sentuhan orang lain, hingga suara-suara yang didengarnya.
  • Bicara sangat cepat tanpa arah yang jelas (sulit dipahami).
  • Tidak bisa tidur, begadang semalaman tapi tidak merasa mengantuk atau lelah di pagi hari.
  • Bertingkah sembrono, misalnya belanja gila-gilaan, bertengkar dengan guru atau atasan, mengundurkan diri dari perusahaan, berhubungan seks dengan orang asing tanpa kondom, mengemudi ugal-ugalan, atau mabuk minuman keras.
  • Psikosis, yaitu tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya ada dalam pikirannya.
Episode Depresi

Kebalikan dari mania adalah depresi. Penderitanya akan menunjukan kesedihan atau keputusasaan yang tidak wajar. Berikut adalah ciri bipolar dalam episode depresi.

  • Menarik diri dari lingkungan dan orang terdekat.
  • Kehilangan minat pada kegiatan yang tadinya dinikmati.
  • Kehilangan tenaga dan energi secara drastis, biasanya penderita tidak bisa meninggalkan tempat tidur hingga berjam-jam atau berhari-hari.
  • Bicara sangat lambat, kadang seperti orang yang sedang melantur.
  • Gangguan daya ingat, konsentrasi, dan nalar.
  • Terobsesi terhadap kematian, ingin bunuh diri, atau percobaan bunuh diri.
  • Perubahan pola makan secara drastis, entah nafsu makan hilang atau meningkat.
  • Terus-terusan merasa diri bersalah, tidak berguna, atau tidak layak.

Sedangkan Mood Swing, perubahan mood (suasana hati) yang jelas terasa atau terlihat. Pada dasarnya, perubahan mood dan emosi ini bisa saja terjadi sesekali dan hal ini tidak disebabkan oleh kelainan tertentu. Namun jika sampai mengganggu aktivitas sehari-hari atau disertai tanda-tanda lain, mood swing patut dicurigai sebagai gejala suatu gangguan mental.

Tanda-Tanda Mood Swing
Selama perubahan emosi tidak berdampak kepada kehidupan sehari-hari, maka hal ini masih dapat dianggap normal. Namun apabila perubahan suasana hati terjadi secara drastis, sering, berlarut-larut, dan hingga menganggu aktivitas, hal ini perlu diwaspadai.

Contohnya adalah mood swing yang berlangsung selama beberapa hari atau lebih, membuat Anda menjadi sangat senang dan sedih secara tidak terkontrol, impulsif, sangat mudah tersinggung, dan tidak bisa tidur, atau bila perubahan mood sampai mengganggu kegiatan sehari-hari dan merusak hubungan dengan orang terdekat.

Perhatikan juga jika mood swing telah mencapai tingkatan yang lebih parah, seperti menimbulkan rasa ingin melukai diri sendiri atau mengakhiri hidup. Mood swing yang muncul bersamaan dengan gejala-gejala tersebut bisa jadi merupakan pertanda gangguan kesehatan mental.

Penyebab Mood Swing

Terdapat berbagai penyebab seseorang mengalami mood swing, di antaranya:

1. Kondisi hormon
Remaja, wanita hamil, dan wanita menopause adalah kelompok yang memiliki kemungkinan besar mengalami perubahan suasana hati terkait perubahan hormon.

2. Ketidakseimbangan kimia otak
Mood swing bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia otak yang mengatur suasana hati. Beberapa contoh zat kimia otak ini adalah serotonin dan dopamin.

3. Penyakit tertentu
Menderita penyakit tertentu juga menjadi faktor yang mendasari kemunculan mood swing. Beberapa penyakit yang bisa menyebabkan gangguan mood adalah kerusakan paru-paru, ginjal, atau jantung, penyakit tiroid, dan kelainan pada otak.

4. Gangguan mental
Gangguan mental yang sering kali dikaitkan dengan keluhan mood swing adalah depresi, gangguan bipolar, gangguan kepribadian ambang, skizofrenia, dan ADHD.

Selain beberapa penyebab di atas, kecanduan atau penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan minuman keras, serta efek samping obat-obatan tertentu juga bisa menimbulkan mood swing.

Cara Mengatasi dan Mencegah Mood Swing

Jika perubahan emosi ini tidak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari, mood swing biasanya bisa mereda sendiri tanpa perawatan khusus. Meski begitu, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan mencegah munculnya perubahan mood ini, yaitu:


  • Menjalani gaya hidup sehat
  • Menerapkan pola hidup yang sehat, termasuk olahraga teratur, tidur yang cukup, konsumsi makanan sehat, dan mengelola stres, dapat membantu menjaga mood tetap stabil.
  • Membuat mood diary
  • Jika mood swing sering dirasakan, amati tiap kali perubahan suasana hati ini terjadi, kapan waktunya dan apa alasannya. Kemudian catat dalam buku catatan pribadi. Dengan memerhatikan pola-pola tersebut, faktor pemicu mood swing dapat lebih mudah dikenali, sehingga bisa dihindari.
  • Berkonsultasi ke pskiater atau psikolog
  • Untuk mood swing yang parah atau sangat sering terjadi, hingga menyebabkan gangguan aktivitas sehari-hari, sebaiknya dikonsultasikan pada pskiater atau psikolog. Psikiater atau psikolog dapat membantu Anda mengindentifikasi penyebab mood swing sekaligus memberikan penanganan yang tepat.
  • Mood swing yang disebabkan oleh gangguan mental sulit sembuh dengan sendirinya. Tanpa penanganan medis, sering kali kondisi penderita menjadi semakin buruk.
  • Pasien dengan mood swing dapat menjalani sesi konseling, dan setelah faktor penyebabnya diketahui, dokter akan memberikan penanganan, baik dengan psikoterapi maupun pemberian obat-obatan.